.

Breaking News

Rabu, 13 November 2013

MAHASISWA DAN PARADIGMA APATIS

OLEH MASRIAN MIZANI

Banyak kalangan yang membutuhkan mereka,dan banyak juga yang kontra terhadap mereka, meskipun tidak mempunyai kebijakan, yang namun keuntungan itu akan nampak jika mereka berbuat, dan kerugianpun juga berdampak besar bagi kalangan yang kontra terhadap mereka.

Lenggang-lenggok itu, kian nampak diseluruh pelosok desa yang ada dinegara ini,dengan memikul sebuah ransel hitam,denagn berisikan buku dan pena, sekali-kali mata melirik kearah kiri dan kanan, disetiap rumah warga yang dilewatinya.
Tak heran memang dengan tingkah laku mereka yang sekali-kali timbul rasa kritis yang mendalam,memang itu menjadi sebuah keharusan bagi mereka selaku penyambung tongkat estapet kepemimpinan bangsa yang kedepan.
Kelakuan itu memang sudah menjadi hal yang lumrah,meskipun berpenampilan yang begitu sederhana,yang namun satu kemuliaan yang mereka peroleh  dengan mengemban status sebagai pelajar tertinggi di dunia ini (Mahasiswa).
Banyak hal memang yang perlu dibanggakan dari mereka,meskipun pengalaman hidup mereka masih dianggap minim, tapi rasa loyalitas, idealis yang memang menjadi acungan jempol terhadap mereka. Banyak masyarakat yang memerlukan kehadiran merera, lebih-libih masyarakat berpenghidupan menengah ke bawah, setidaknya disamping mereka agent perubahan mereka juga merupakan jembatan bagi warga untuk menyampaikan uneg – uneg terhadap pemerintah.
            Jika ditinjau dari berbagai sudut pandang sungguhlah mulia atas apa yang mereka lakukan, dan agamapun pernah dikatakan “ Nabi di utuskan ke dunia ini, salah satunya untuk menuntaskan pengzaliman dan perbudakan” dan agama islampun tidak mengharapkan pemeluknya miskin dan bodoh tapi melainkan, rahmatal lil’alamin.
            Tentunya dengan adanya berbagai sarana dan prasarana di zaman moderat ini sungguh sangatlah mudah bagi anak bangsa belajar dengan semangat dan sungguh – sungguh, yang pastinya dengan adanya kapasitas yang memadai tentu akan lahir berupa ide – ide cemerlang utnutk membangun negeri ini.
            Ketika berbicara mahasiswa sungguh terpikir oleh kita, kalau mereka adalah orang – orang yang mempunyai berbagai kelebihan, dan di tangan mereka juga negeri ini akan di serahkan. Tentunya pemikiran itu sungguhlah tepat, tapi ketepatan itu masih di pertanyakan kemahasiswa mana arah tujuannya.
            Sekedar mengulang historis orde baru diaman dimasa itu seluruh aktifis muda dengan background yang berbada saling sama – sama membahu dan membina, di kala itupun solidaritas mahasiswa kian terarah sesuai dengan Trilogi Perguruan Tinggi, dan sikap loyalitas merkapun jelaskan diperlihatkan kepada seluruh elemen masyarakat, padahal di msa itu jelas terjadinya berbgai insiden di kalangan mahasiswa, namun di kerenakan sikap kesadaran dan rasa beban moral yang di embankan di pundak meraka, sungguh tidak ada kata – kata takut dan apatis di kala itu. D engan di dorong bebrbagai semangat juang  dan rasa memili moral mekipun nyawa mereka hilang, yang pastinya rezim Soeharto tunduk masa itu.
            Setelah tumbangnya Orde Baru, hanya tinggal kenang – kengan yang tak terlupakan, bahkan di setiap adanya universitas di negara ini tentunya mereka berkata “ Mahasiswalah yang paling kuat”, mungkin kata – kata itu benar, karena sudah di buktikan pada tahun 1998, tapi kalau misalkan sekarang ini masih juga di beberkan kata – kata seperti itu sungguhlah bukan menjadi satu kehormatan bagi mahasiswa, tapi melainkan bahan teryawaan orang banyak.
Banyaknya mahasiswa pada tahun 2000 – an sekarang ini mayoritasnya hanya bisa berteoritis, tanpa ada implementasi yang jelas, bukan menafikan, ada juga kalangan mahasiswa yang masih eksis sebagai agent of control social, yang namun tingkat penyadaran itu Cuma dimilki oleh sehelintir mahasiswa yang peka terhadap keadaan.
            Padahal jika di kalkulaiskan jumlah mereka, khususnya di Aceh sungguh dengan jumlah tersebut mereka bisa mendirikan satu kabupaten baru, namun sayang kebanyakan mereka itu bukanlah menjadi satu barometer bagi rakyat, jika dibandingkan dengan masyarkat yang ada di kampung – kampung sungguh tidak ada bedanya, hanyalah status mereka yang lebih agak lumayan, namun apa hendak di kata nasi telah menjadi bubur, mau tidak mau harus di telan juga.
`           dalam situasi seperti ini, dimana seluruh rakyat menjerit akan kesusahan, dan banyaknya muda mudi negeri ini yang belum mendapatkan pekerjaan, seharusnya mereka adalah sebagai tombak utama yang meneriakkan penzaliman di negeri ini, dan mereka juga yang menjadi leader dalam menyampaikan aspirsi masyarakat, namun sayang itu semua hanyalah tinggal “dongeng sebelum tidur”.
Bak air di atas daun keladi, paradigma inilah yang melekat di benak mereka. Terkadang disaat ada satu gebrakan yang dilakukan oleh kaum mahasiswa (minoritas), bukanlah menjadi motivas bagi mereka yang memilki kelompok yang lebih besar, malahan mereka menganggap apa yang dilakukan (mahasiswa minoritas) adalah hal – hal yang kurang kerjaan, sungguhlah tidak ada kesadaran yang tumbuh di diri mereka, melainkan sikap apatis yang sudah menjadi “dewa” di kalangan mereka.
            Sayang memang jika lakonan itu terus di ternakkan, di samping itu sikap tak wajar, dan itupun menjadi satu bumerang bagi negeri ini, sehingga output yang diharapkan sungguh melenceng dari garis – garis kepemimpinan.
            Dalam menanggapi berbagai hal yang diatas, fakta memang atas apa yang terjadi di kalangan mahasiswa, terkadang kita tidak habis pikir, sebenarnya paradigma seorang mahasiswa lebih tinggi dan tentunya mempunyai berbagai channel yang luas dari berbagai sudut, yang namun tingkatan kesadaran yang masih jauh dari diri mereka.
            Seperti yang telah kita bahas diatas tadi banyaknya mahasiswa bukanlah berarti menjadi satu ukuran akan berubahnya daerah setempat, indikasinya mayoritas mahasiswa hanya memikirkan setelah selesai dari dunia kampus merka akan mendapatkan pekerjaan di pemerintahan atau bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
            Dalam menanggapi cita – cita atau kehobian mereka bukanlah hal yang salah yang namun mereka tidak pernah menilai dan menelaah lebih dalam apa yang sedang terjadi di negeri  ini. Jika di kaji bagaimana paradigma mereka sungguh mayoritas mereka hanya bertumpu atau berharap akan dapat posisi di pemerintahan. Jika kita kalkulasikan, berapa jumlah honorer dan tenaga bakti khususnya di Aceh Barat Daya kurang lebih 4000 orang, dan per tahunnya Cuma ada peluang bagi mereka (pengangguran) hanya 50 orang, dan untuk menghabiskan jumlah yang begitu besar perlu waktu sekitar 40 tahun. Dan coba di kalkulasikan berapa jumlah kelulusan mahasiswa per tahunnya dari berbagai universitas yang ada di negara ini.
            Dengan berbagai sampel yang ada, ini menjadi satu indikator akan terjadinya pengangguran massal khususnya di Aceh Barat Daya, dengan kondisi seperti ini setidaknya mahasiswa mempertanyakan kemana mereka setelah lulus?.
Yang namun apa hemdak dikata semua itu hanyalah sebatas teoritis tanpa adanya di sertai satu gebrakan nyata terhadap pemerintah, mungkin itu hal yang wajar memang tabiat mereka yang selalu menerima dengan lapang dada atas apa yang diberikan, meskipun itu jelas melanggar Trilogi Perguruan Tinggi.
Ketika hal seperti ini sudah di budayakan di tengah – tengah akademsi, maka jangan heran ke depan negeri ini akan di pegang oleh pemimpin yang hanya memikirkan kepentinganndiri sendiri dan segelintir kelompok saja.***

                        

Komentar Anda Disini !

Copyright © 2010 - Abdyanews
Designed By Xplory Design