OLEH MASRIAN MIZANI
Banyak kalangan yang membutuhkan
mereka,dan banyak juga yang kontra terhadap mereka, meskipun tidak mempunyai
kebijakan, yang namun keuntungan itu akan nampak jika mereka berbuat, dan
kerugianpun juga berdampak besar bagi kalangan yang kontra terhadap mereka.
Lenggang-lenggok itu, kian nampak
diseluruh pelosok desa yang ada dinegara ini,dengan memikul sebuah ransel
hitam,denagn berisikan buku dan pena, sekali-kali mata melirik kearah kiri dan
kanan, disetiap rumah warga yang dilewatinya.
Tak
heran memang dengan tingkah laku mereka yang sekali-kali timbul rasa kritis
yang mendalam,memang itu menjadi sebuah keharusan bagi mereka selaku penyambung
tongkat estapet kepemimpinan bangsa yang kedepan.
Kelakuan
itu memang sudah menjadi hal yang lumrah,meskipun berpenampilan yang begitu
sederhana,yang namun satu kemuliaan yang mereka peroleh dengan mengemban status sebagai pelajar
tertinggi di dunia ini (Mahasiswa).
Banyak
hal memang yang perlu dibanggakan dari mereka,meskipun pengalaman hidup mereka
masih dianggap minim, tapi rasa loyalitas, idealis yang memang menjadi acungan
jempol terhadap mereka. Banyak masyarakat yang memerlukan kehadiran merera,
lebih-libih masyarakat berpenghidupan menengah ke bawah, setidaknya disamping
mereka agent perubahan mereka juga merupakan jembatan bagi warga untuk
menyampaikan uneg – uneg terhadap pemerintah.
Jika ditinjau dari berbagai sudut
pandang sungguhlah mulia atas apa yang mereka lakukan, dan agamapun pernah
dikatakan “ Nabi di utuskan ke dunia ini, salah satunya untuk menuntaskan
pengzaliman dan perbudakan” dan agama islampun tidak mengharapkan pemeluknya
miskin dan bodoh tapi melainkan, rahmatal lil’alamin.
Tentunya dengan adanya berbagai
sarana dan prasarana di zaman moderat ini sungguh sangatlah mudah bagi anak
bangsa belajar dengan semangat dan sungguh – sungguh, yang pastinya dengan
adanya kapasitas yang memadai tentu akan lahir berupa ide – ide cemerlang
utnutk membangun negeri ini.
Ketika berbicara mahasiswa sungguh
terpikir oleh kita, kalau mereka adalah orang – orang yang mempunyai berbagai
kelebihan, dan di tangan mereka juga negeri ini akan di serahkan. Tentunya
pemikiran itu sungguhlah tepat, tapi ketepatan itu masih di pertanyakan
kemahasiswa mana arah tujuannya.
Sekedar mengulang historis orde baru
diaman dimasa itu seluruh aktifis muda dengan background yang berbada saling
sama – sama membahu dan membina, di kala itupun solidaritas mahasiswa kian
terarah sesuai dengan Trilogi Perguruan Tinggi, dan sikap loyalitas merkapun
jelaskan diperlihatkan kepada seluruh elemen masyarakat, padahal di msa itu
jelas terjadinya berbgai insiden di kalangan mahasiswa, namun di kerenakan
sikap kesadaran dan rasa beban moral yang di embankan di pundak meraka, sungguh
tidak ada kata – kata takut dan apatis di kala itu. D engan di dorong bebrbagai
semangat juang dan rasa memili moral
mekipun nyawa mereka hilang, yang pastinya rezim Soeharto tunduk masa itu.
Setelah tumbangnya Orde Baru, hanya
tinggal kenang – kengan yang tak terlupakan, bahkan di setiap adanya
universitas di negara ini tentunya mereka berkata “ Mahasiswalah yang paling
kuat”, mungkin kata – kata itu benar, karena sudah di buktikan pada tahun 1998,
tapi kalau misalkan sekarang ini masih juga di beberkan kata – kata seperti itu
sungguhlah bukan menjadi satu kehormatan bagi mahasiswa, tapi melainkan bahan
teryawaan orang banyak.
Banyaknya
mahasiswa pada tahun 2000 – an sekarang ini mayoritasnya hanya bisa
berteoritis, tanpa ada implementasi yang jelas, bukan menafikan, ada juga
kalangan mahasiswa yang masih eksis sebagai agent of control social, yang namun
tingkat penyadaran itu Cuma dimilki oleh sehelintir mahasiswa yang peka
terhadap keadaan.
Padahal jika di kalkulaiskan jumlah
mereka, khususnya di Aceh sungguh dengan jumlah tersebut mereka bisa mendirikan
satu kabupaten baru, namun sayang kebanyakan mereka itu bukanlah menjadi satu
barometer bagi rakyat, jika dibandingkan dengan masyarkat yang ada di kampung –
kampung sungguh tidak ada bedanya, hanyalah status mereka yang lebih agak
lumayan, namun apa hendak di kata nasi telah menjadi bubur, mau tidak mau harus
di telan juga.
` dalam situasi seperti ini, dimana
seluruh rakyat menjerit akan kesusahan, dan banyaknya muda mudi negeri ini yang
belum mendapatkan pekerjaan, seharusnya mereka adalah sebagai tombak utama yang
meneriakkan penzaliman di negeri ini, dan mereka juga yang menjadi leader dalam
menyampaikan aspirsi masyarakat, namun sayang itu semua hanyalah tinggal
“dongeng sebelum tidur”.
Bak
air di atas daun keladi, paradigma inilah yang melekat di benak mereka.
Terkadang disaat ada satu gebrakan yang dilakukan oleh kaum mahasiswa
(minoritas), bukanlah menjadi motivas bagi mereka yang memilki kelompok yang
lebih besar, malahan mereka menganggap apa yang dilakukan (mahasiswa minoritas)
adalah hal – hal yang kurang kerjaan, sungguhlah tidak ada kesadaran yang
tumbuh di diri mereka, melainkan sikap apatis yang sudah menjadi “dewa” di
kalangan mereka.
Sayang memang jika lakonan itu terus
di ternakkan, di samping itu sikap tak wajar, dan itupun menjadi satu bumerang
bagi negeri ini, sehingga output yang diharapkan sungguh melenceng dari garis –
garis kepemimpinan.
Dalam menanggapi berbagai hal yang
diatas, fakta memang atas apa yang terjadi di kalangan mahasiswa, terkadang
kita tidak habis pikir, sebenarnya paradigma seorang mahasiswa lebih tinggi dan
tentunya mempunyai berbagai channel yang luas dari berbagai sudut, yang namun
tingkatan kesadaran yang masih jauh dari diri mereka.
Seperti yang telah kita bahas diatas
tadi banyaknya mahasiswa bukanlah berarti menjadi satu ukuran akan berubahnya
daerah setempat, indikasinya mayoritas mahasiswa hanya memikirkan setelah
selesai dari dunia kampus merka akan mendapatkan pekerjaan di pemerintahan atau
bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Dalam menanggapi cita – cita atau
kehobian mereka bukanlah hal yang salah yang namun mereka tidak pernah menilai
dan menelaah lebih dalam apa yang sedang terjadi di negeri ini. Jika di kaji bagaimana paradigma mereka
sungguh mayoritas mereka hanya bertumpu atau berharap akan dapat posisi di
pemerintahan. Jika kita kalkulasikan, berapa jumlah honorer dan tenaga bakti
khususnya di Aceh Barat Daya kurang lebih 4000 orang, dan per tahunnya Cuma ada
peluang bagi mereka (pengangguran) hanya 50 orang, dan untuk menghabiskan
jumlah yang begitu besar perlu waktu sekitar 40 tahun. Dan coba di kalkulasikan
berapa jumlah kelulusan mahasiswa per tahunnya dari berbagai universitas yang
ada di negara ini.
Dengan berbagai sampel yang ada, ini
menjadi satu indikator akan terjadinya pengangguran massal khususnya di Aceh
Barat Daya, dengan kondisi seperti ini setidaknya mahasiswa mempertanyakan
kemana mereka setelah lulus?.
Yang
namun apa hemdak dikata semua itu hanyalah sebatas teoritis tanpa adanya di
sertai satu gebrakan nyata terhadap pemerintah, mungkin itu hal yang wajar
memang tabiat mereka yang selalu menerima dengan lapang dada atas apa yang
diberikan, meskipun itu jelas melanggar Trilogi Perguruan Tinggi.
Ketika
hal seperti ini sudah di budayakan di tengah – tengah akademsi, maka jangan
heran ke depan negeri ini akan di pegang oleh pemimpin yang hanya memikirkan
kepentinganndiri sendiri dan segelintir kelompok saja.***